Ayo Bersinar, Anak Negeri!

Oleh: Cokorda Istri Maha Pradnya Savita

Pembelajaran sederhana dengan contoh menarik dan menyenangkan dari Bali Edukasi diperhatikan secara serius oleh anak-anak SDN 2 Keramas
Pembelajaran sederhana dengan contoh menarik dan menyenangkan dari Bali Edukasi diperhatikan secara serius oleh anak-anak SDN 2 Keramas

Indonesia, salah satu negara berlimpah sumber daya manusia. Namun dengan SDM melimpah itu, negeri ini masih saja belum berganti predikat menjadi negara maju. Salah satu akar permasalahannya adalah mutu pendidikan di Indonesia yang belum merata. Dilansir dari bbc.com, pada peringkat tertinggi sekolah-sekolah global yang diterbitkan, negara-negara Asia menempati lima posisi teratas namun justru Indonesia berada pada peringkat ke delapan dari bawah. Ironi, ketika Indonesia memiliki begitu banyak sekolah hingga perguruan tinggi terbaik, ternyata kualitas dan pemerataan pendidikan Indonesia masih tertinggal jauh dari negara lainnya.

Pendidikan. Dalam satu kata itu, bergantung ribuan harapan anak bangsa untuk menikmatinya. Seperti apa rupanya? Bagaimana rasanya? Ada apa saja didalamnya? Masih banyak yang belum mencicipinya. Berangkat dari permasalahan fundamental tersebut, banyak gerakan digemakan dan segudang komunitas memasang langkah. Salah satunya, komunitas Bali Edukasi yang didirikan oleh generasi muda Bali bernama Made Hery Santosa, PhD dan mulai bergerak pada 2 Mei 2015 (baliedukasi.org, 2015). Dengan motto “Bersama Menyalakan Peradaban”, Bali Edukasi aktif berkontribusi positif dan nyata lewat pendidikan, lingkungan, juga kesehatan pada anak negeri khususnya di Pulau Bali.

Foto Gus Adi (narasumber) saat diwawancara
Foto Gus Adi (narasumber) saat diwawancara

Bali, meski terlihat begitu modern berkat pariwisatanya, juga memiliki sisi pilu dalam segi pendidikan. Adalah Agus Adi Putrawan, S.Pd., M.Pd., salah satu anggota aktif di komunitas Bali Edukasi menuturkan bahwa pendidikan di Bali masih tumpang tindih. “Secara umum, pendidikan di Bali cukup maju untuk beberapa daerah seperti Denpasar. Namun apabila kita terjun langsung ke lapangan, sebenarnya masih banyak realita-realita yang cukup mencengangkan,” ujar pemilik nama panggilan Gus Adi ini. Melihat keadaan itu, Ia tidak tinggal diam. Melalui Bali Edukasi, Gus Adi berkontribusi. Bagi dia, menjadi bagian dari Bali Edukasi berarti juga berperan sebagai agent of change. Tujuannya membantu bersama membuat sesuatu menjadi berarti. “Sesuai dengan visi saya, membuat sesuatu yang berbeda dari orang lain,” begitu kata laki-laki asal Tabanan ini.

Tidak hanya Gus Adi. Hingga sekarang, banyak anak muda Bali yang berbaik hati meluangkan waktu tanpa dibayar membantu anak-anak yang bekekurangan, bergabung dari berbagai profesi ke dalam komunitas ini. Kegiatan Bali Edukasi berfokus pada tiga bidang, yaitu edukasi, environment, dan literasi. Sasarannya, tentu saja anak-anak khususnya pada tingkat sekolah dasar yang berkekurangan baik dari segi dana, fasilitas, dan kualitas pengajar di sekolah. Kekhawatiran tentang kelanjutan pendidikan sejak dini yang ada di Bali menjadi semangat komunitas Bali Edukasi dalam mewujudkan kemajuan pendidikan di pulau dewata.

Di Bali Edukasi, ada beberapa kegiatan penting yang selalu dilakukan. Diantaranya adalah kegiatan PELANGI (Pelita Harapan Negeri), yaitu pendidikan kecil pada anak-anak seperti pentingnya membaca, pola hidup sehat, hingga belajar bahasa Inggris, Jepang, juga Perancis, serta menyumbangkan buku-buku pelajaran (bali.tribunnews.com 2015). Kemudian GEMASENI (Gerakan Membaca Sejak Dini), memfokuskan pada pentingnya literasi pada anak-anak, lalu kegiatan English Camp, kegiatan penanaman dan pemeliharaan mangrove di kampung Kepiting kawasan Bali Selatan, juga kegiatan bersih lingkungan di pantai-pantai sekitar daerah Singaraja. Seluruh kegiatan itu dilakukan paling tidak satu kali dalam sebulan.

Suasana kelas dan siswa di SDN 2 Keramas, Blahbatuh – Gianyar, Bali saat Komunitas Bali Edukasi berkunjung
Suasana kelas dan siswa di SDN 2 Keramas, Blahbatuh – Gianyar, Bali saat Komunitas Bali Edukasi berkunjung

Menjalani semua kegiatan itu membuat Gus Adi punya banyak cerita menarik. Mengunjungi, mengajar, sambil bermain kepada anak-anak ke berbagai daerah dengan beraneka kondisi membuatnya sadar, bahwa masih banyak anak-anak di Bali yang jauh dari hingar bingar teknologi dan ilmu pengetahuan yang dipikirkan orang. “Di kota Denpasar yang sangat maju, sangat susah mencari orang yang tidak sekolah. Tapi lihat di Buleleng, Jembrana, Tabanan, Karangasem, juga Gianyar, sangat terlihat banyak sekolah yang butuh bantuan pendidikan, anak-anak putus sekolah, dan kurang mampu,” ucapnya prihatin. Kepolosan dan keceriaan anak-anak itu sekali membuatnya mengucap, “Ah, saya jadi kangen sama mereka,” di sela-sela wawancara.

Cerita dari Gus Adi adalah sebagian kecil dari kondisi pendidikan di daerah Bali, di Indonesia. Selain di Bali, tentu masih ada cerita lain dari berbagai daerah di Indonesia. Namun justru karena cerita itu ada, banyak komunitas bermunculan. Tak lain, untuk menggiring cerita pilu itu ke akhir yang bahagia. Bali Edukasi adalah salah satu dari banyak komunitas lain yang bergerak atas nama kemajuan pendidikan Indonesia.

Mengambil contoh dari komunitas ini, membuktikan bahwa dari sekian banyak generasi muda kini yang identik dengan hura-hura modernisasi, masih ada anak muda yang peduli dengan lingkungan, pendidikan, dan orang-orang disekitarnya. Tidak semua orang pasif terhadap isu pendidikan. Pelan namun pasti, munculnya komunitas-komunitas seperti Bali Edukasi mampu mengubah paradigma masyarakat bahwa anak muda Indonesia sangat mungkin untuk menjadi agen perubahan.

Dari sini, tentunya diharapkan menjadi inspirasi kepada generasi muda, untuk turut peka juga bergerak membantu sesama yang membutuhkan. “Mari bersama membangun negeri, singsingkan lengan baju dan bersama-sama turun tangan untuk Indonesia,” kata Gus Adi, mengutip kalimat Anies Baswedan. Ia juga berharap agar pendidikan di Indonesia, khususnya di Bali bisa semakin membaik dan ada perhatian dari pemerintah kepada anak-anak berkekurangan dan putus sekolah hingga ke sekolah-sekolah dalam kondisi khusus.

Jika akar permasalahan negeri diperbaiki, maka Indonesia akan mampu memajukan SDM-nya secara mandiri. Maka bantuan pendidikan sekiranya harus digemborkan untuk kemajuan pengetahuan anak negeri dan bersaing dengan negara lainnya. Anak muda juga harus turut ikut andil menggemakan perubahan. Oleh karenanya, Gus Adi berpesan, “Semoga semakin banyak anak muda tergerak hatinya untuk turun ke bawah.” ucapnya sambil tersenyum menutup kalimatnya.

Foto bersama Gus Adi, salah satu anggota Bali Edukasi, Koordinator Bidang Kewirausahaan
Foto Penulis bersama Gus Adi, salah satu anggota Bali Edukasi, Koordinator Bidang Kewirausahaan 

Terima kasih. Ayo bersinar, anak negeri!

RUJUKAN

Komunitas Bali Edukasi Ajarkan Bahasa Inggris, Jepang, dan Perancis ke Pelosok Bali. (2015, November 26). Retrieved July 15, 2016, from Tribun Bali: bali.tribunnews.com/2015/11/26/komunitas-bali-edukasi-ajarkan-bahasa-inggris-jepang-dan-perancis-ke-pelosok-bali

Tentang BE (Bali Edukasi). (2015). Retrieved July 14, 2016, from Bali Edukasi: baliedukasi.org/tentang-be/

Coughlan, S. (2015, May 13). Asia Peringkat Tertinggi Sekolah Global, Indonesia nomor 69. Retrieved July 15, 2016, from BBC Indonesia: bbc.com/indonesia/majalah/2015/05/150513_majalah_asia_sekolah_terbaik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *