Cerita BE

Cerita #2

Dua Tahun Bali Edukasi: Tonggak Baik Perubahan

Untuk awalan, silakan membaca tulisan Satu Tahun Bali Edukasi: Belajar dari Ikan Koi di Cerita #1 (dibawah ini).

Jadwal kegiatan edukasi dari Bali Edukasi selalu padat. Kegiatan yang digerakkan oleh kakak-kakak (sebutan kami kepada tim dan relawan) selalu berjalan dengan penuh dinamika. Ada yang berencana, ada yang menyumbang ide, ada yang menyumbang masukan, ada yang donasi, ada yang bergerak sendiri, ada juga yang bergulat dengan kesibukannya. Medio tahun 2016 adalah tahun dimana Bali Edukasi terus berupaya menyalakan peradaban. Tanpa bermaksud apa-apa, sudah ratusan bahkan ribuan pihak yang Bali Edukasi pernah ‘sentuh’ dengan beragam kegiatannya. Mulai aktivitas bermain dan belajar, edukasi sampah, membaca dan literasi, edukasi kesehatan dini, membersihkan sampah, bahkan kegiatan internal ‘having fun’ juga dilakukan. Kami memang tidak bisa menjangkau semua pihak, namun tentu kami mengupayakan agar semua kegiatan kami bisa berdampak secara berkesinambungan. Kegiatan-kegiatan Bali Edukasi bisa dilihat pada tautan berikut ini.

Medio tahun 2016 juga ditandai dengan pemantapan tonggak-tonggak penyangga wadah ini. Usia yang masih orok ini tentu tidak bisa dibandingkan dengan wadah-wadah lain yang sudah lebih lama berdiri dan berkegiatan. Meski demikian, selalu ada binar semangat saya temukan di mata beberapa kakak-kakak yang memang menyatakan diri untuk komit dan belajar. Proses belajar yang bersama-sama ini memang penuh liku. Namun, semuanya adalah proses tumbuh dan menumbuhkan. Diri sendiri terus tumbuh mendapatkan refleksi, pengalaman, informasi, rekomendasi, dan lain sebagainya untuk mencapai tujuan dan cita-cita. Selain tumbuh untuk diri, tak lupa upaya menumbuhkan (baca: empower) orang lain dilakukan secara positif.

Awal tahun 2017 adalah tonggak dimana Bali Edukasi berisi darah-darah dan semangat baru. Tim yang lebih energik muncul dan berusaha berkiprah di kerangka visi misi Bali Edukasi. Dalam hitungan bulan, terlihat kemudian berbagai hal, mulai dari munculnya inovasi-inovasi positif sampai masuknya relawan-relawan kebaikan baru. Yang merasa tidak bisa berjuang digantikan oleh semangat-semangat baru. Rasanya, inilah sebab kenapa Bali Edukasi terus tegak menyalakan peradaban di pelosok Bali. Memang, perjalanan tidak selalu lancar. Ada momentum-momentum kebaikan ada juga momentum-momentum yang melemahkan. Namun, Bali Edukasi bersyukur memiliki binar semangat penyala peradaban yang selalu dikobarkan oleh kakak-kakaknya. Bersyukur karena Bali Edukasi memiliki karakter-karakter tangguh yang terus maju. Bersyukur meski kadang kehilangan satu penggerak dengan berbagai ragam alasan dan karakter, berlipat penggerak muncul kemudian yang nantinya membantu ribuan anak-anak di pelosok negeri.

Bali Edukasi baru berusia dua tahun. Usia yang masih sangat muda. Yang bisa saja masih naif. Yang sangat rentan dimanfaatkan. Yang bisa jadi masih baik, bahkan terlalu baik dengan perlakuan individu-individunya yang beragam. Namun, Bali Edukasi akan terus bersemangat maju terus, apapun yang terjadi. Sendirian, berbanyak. Kecil dampak, besar dampak. Bali Edukasi yakin, akan selalu ada karakter-karakter baik, berpikiran terbuka, berintegritas, namun tak lupa rendah hati yang akan membantu. Akan selalu ada realisasi mimpi baru melalui banyak jalan dan banyak kakak-kakak komit di Bali Edukasi. Sekali lagi, sendirian, berbanyak. Kecil dampak, besar dampak. Bali Edukasi telah menemukan tonggak baik perubahan. Telah memancangkan pilar penyangga bagi semua pihak yang memerlukan. Semoga tonggak dan pilar ini kuat untuk tahun-tahun di masa depan. Selamat ulang tahun yang kedua, penyala negeri!

Singaraja, 2 Mei 2017
Rumah Penyala Peradaban
Made Hery Santosa
Pendiri

———————————————————————————————–

Cerita #1

Satu Tahun Bali Edukasi: Belajar dari Ikan Koi
sa

Tidak terasa, sudah satu tahun perjalanan Bali Edukasi. Tepat hari ini, 2 Mei 2016, Bali Edukasi berusia satu tahun. Berbarengan dengan Hari Pendidikan Nasional. Alasannya sederhana, hari ini tonggak peradaban di Indonesia dimulai. Saya memulainya setahun setelah menjalankan Pejuang Beasiswa Bali. Dengan anak-anak muda Bali, dengan satu tujuan umum: meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui edukasi.

Mengapa SDM?
Melbourne, medio Januari 2014
Huong dan Turki mencoba maju ke depan kelas. Saat itu, kami sedang belajar mengenai preposisi, seperti in, on, at, dan lainnya. Bagi beberapa siswa, konsep ini cukup mudah. Namun bagi anak-anak non-native English speaker, seperti mereka yang berasal dari Vietnam dan Arab Saudi ini, waktu dan latihan lebih sering masih diperlukan. Huong dan Turki maju ke depan dan mencoba membuat sebuah percakapan sederhana berisi preposisi untuk menunjukkan pemahaman mereka terhadap konsep ini. Dengan latar belakang berbeda, proses belajar menjadi sangat menarik. Karakter Vietnam – secara umum – berani berbicara, meski kesulitan pelafalan. Karakter Arab Saudi, seperti Timur Tengah lainnya, secara umum berani berbicara namun lemah di ejaan.

Ini adalah sebagian perjalanan saya mengajar bahasa Inggris anak-anak dari berbagai Negara di dunia ketika belajar di Australia. Saya diharuskan memahami karakter berbagai bangsa dengan kultur beragam, dan mencari tahu bagaimana berinteraksi dengan berbagai perbedaan ini. Dalam konteks belajar bahasa, konsep Cross Cultural Understanding (CCU) juga menjadi penting agar bisa memahami uniknya keragaman ini. Sebelumnya, saya pernah menulis mengenai Ting Ting, seorang mahasiswa Cina, Heeram, dari Irak, Jorge, dari Cile dan banyak kisah lain yang belum sempat saya tuangkan dalam tulisan.

Diantara mahasiswa-mahasiswa luar ini, saya amati banyak sekali berasal dari Cina, Vietnam, Timur Tengah (Arab Saudi), India. Proporsi lebih sedikit datang dari mahasiswa yang berasal dari Bangladesh, Pakistan, Korea, Jepang, Amerika Latin. Adakah yang berasal dari Indonesia? Saya amati, ada. Namun jumlahnya sangat sedikit. At least, yang sedang belajar bahasa Inggris di kelas internasional ini. Saya bertanya, mengapa anak Indonesia sedikit belajar ke luar negeri? Saya mendapat jawabannya beberapa bulan setelah disertasi saya selesai. Jawabannya beragam faktor, salah satunya kualitas SDM Indonesia.

Dalam era global, tidak bisa dihindari bahwa kualitas SDM akan menentukan kualitas suatu bangsa. Berbagai laporan dan indeks sudah dikeluarkan. Beberapa di antaranya adalah PISA, TIMSS, PIRLS, atau Literacy Index. Dari berbagai hasil penelitian tingkat dunia, posisi Indonesia memang selalu nomor dua, dari bawah. Atau di level bawah. Berbagai teori dan jawaban dicari. Jika dibandingkan dengan level Negara-negara lain, bahkan di regional sama yaitu Asia Tenggara, level Indonesia sudah termasuk memprihatinkan. Apa yang bisa dilakukan? Mengapa Negara lain bisa lebih baik? Ada banyak pertanyaan di benak saya. Ada banyak isu yang harus dibenahi. Dan itu tidak bisa sendiri.

Bagaimana Caranya?
Warung Pudak, Singaraja, medio April 2015.
Ada sekitar 6 anak muda duduk di sebuah warung di dekat Kampus Bawah, Universitas Pendidikan Ganesha. Mereka adalah kawan saya dan beberapa pemikir, penggerak cadas. Kami semua memesan makan siang dan segelas es bir – bahasa keren orang Buleleng untuk es kelapa muda. Saya sampaikan pemikiran saya mengenai mimpi memperbaiki kualitas pendidikan, dengan jalan sederhana: berbagi kemampuan teknologi yang bermanfaat untuk orang banyak. Karenanya yang datang adalah anak-anak muda penyuka teknologi. Seperti saya yang memang mengambil minat yang sama.

Muncul kemudian nama-nama, seperti Rumah Awan (yang saya persiapkan sejak di Melbourne), Rumah Edukasi, sampai akhirnya kita semua sepakat dengan nama Bali Edukasi. Kemudian Kak Hendra Raharja dan Kak Pegok bekerja mendesain logo. Ternyata tidak mudah. Kak Wisnu Bayu, Kak Hendra Raharja, Kaka Pegok memiliki ide-ide logo yang genuine. Sampai kami semua harus ‘semedi di bawah pohon toge, dengan tak lupa pakai akik’ (saat itu akik sedang booming :)). Perlu waktu sebulan sebelum nama “Bali Edukasi” dan logo yang seperti kita liat bersama ini ada. Ini seperti pencarian identitas; jati diri.

Langkah selanjutnya adalah keliling Bali. Bagaimana caranya?

Kemana Saja?
Bangkok, medio Nopember 2007
Kepadatan Bangkok sama dengan Jakarta. Mengapa negeri gajah putih ini banyak didatangi orang asing yang ingin menjadi pendidik? Anak-anak mudanya tidak semua bisa berbahasa asing, misalnya Inggris. Saya ingat, bahkan ketika mau beli makan siang di sebuah warung dekat kampus di Thornbury, saya harus pakai bahasa Tarzan. Maen tunjuk, meski demikian perut kenyang. Tapi mengapa banyak yang ingin membantu? Mengapa anak-anaknya mau belajar?

Amsterdam, medio Juni 2008
Saya mendarat di bandara Schiphol, Amsterdam dini hari. Setelah perjalanan melelahkan dari Denpasar, Jakarta, dan Kuala Lumpur, saya dan teman-teman mencapai negeri Kincir Angin ini. Mata saya masih sepet. Tapi excited karena pertama kalinya menjejak kaki di Eropa. Saat itu sedang musim panas, tapi saya berpikir, “Kok tidak panas, ya?” Disini juga saya belajar beberapa tahun kemudian bahwa winter di belahan bumi selatan itu seperti summer di Eropa. Saya kemudian menuju mesin tiket untuk menuju Leiden.

Diatas kereta, saya termenung menatap jendela. Hamparan negeri yang tertata rapi dengan system baik ini dulu pernah menjajah negeri Indonesia. Apa yang bisa saya pelajari? Apa yang bisa saya kontribusikan? Saya menemukan jawabannya di sebuah gereja di Den Haag beberapa hari kemudian yang saya tuangkan di tulisan berjudul “Pesan Pastur di Gereja Grote Kerk.” Saya harus menemukan hal-hal baik di berbagai perspektif untuk bisa disesuaikan dengan konteks negeri saya.

Ho Chi Minh, medio Maret 2013
Sekian tahun setelah saya menjejak benua Eropa, saya berkesempatan menuju negeri Paman Ho. Menyeberang jalan adalah sebuah seni di Negara ini. Saya perhatikan, kroditnya sama dengan Indonesia, dengan Denpasar di Bali. Mengapa kualitas pendidikannya lebih baik? Mengapa anak-anak mudanya lebih berani merantau, meski kemampuan bahasa asingnya tidak sebaik anak Indonesia? Mengapa internetnya bisa cepat, seperti di Australia? Saya menemukan jawabannya di atas sebuah Tuk tuk di Kamboja beberapa tahun kemudian.

Phnom Penh, medio February 2015
Di atas Tuk tuk, saya melihat sebuah istana kerajaan. Berbalut cat keemasan, istana ini mirip dengan istana di Bangkok yang pernah saya kunjungi. Saya ditenami oleh Mr. Ne, seorang supir Tuk tuk yang bahasa Inggris lumayan. Ditambah keramahannya, saya menjadi kerasan selama saya berkegiatan di negeri ini. Sama seperti Bangkok dan Ho Chi Minh, mengapa di Phnom Penh support IDP – sebuah organisasi pendidikan – jauh lebih besar daripada di Indonesia?

Saya kemudian tersadar, ini karena SDM! Ternyata, SDM di Negara-negara itu, meski beragam, lebih bersedia belajar hal baru. Lebih mau membuka diri akan perubahan dan sesuatu lebih baik. Saya harus mencobanya ketika kembali nanti.

Setelah menyiapkan diri, saya menyiapkan diri untuk mewujudkan mimpi. Membangun negeri dengan edukasi. Idealis? Mungkin saja. Tapi saya yakin, ada banyak anak muda idealis lainnya. Idealis bukan harus kaku, namun di mata saya, smart, know what to do, how to do something.

Ikan Koi
Dalam perjalanannya, Bali Edukasi banyak mengalami proses. Mulai dari ‘ukuran’nya, cakupan, sudut pandang, umur yang terlibat, latar belakang pekerjaan atau pendidikan, dan ragam lainnya. Perjalanan pertama kali BE dimulai dari Desa Selemadeg, Tabanan. Saat itu, Kak Hendranatha sedang KKN di desa tersebut. Olehnya, kegiatan ini bisa dilakukan. Sukses? Lebih tepat, bahagia. Dari Tabanan, kegiatan-kegiatan BE mulai bergulir, menjelajah seluruh wilayah di Bali. Belum semua memang, namun cukup. Lebih lanjut bisa dilihat di http://baliedukasi.org/kegiatan.

Semakin besar, tentu semakin banyak ragamnya. Seperti ikan koi di kolam, warna-warni yang ada di tubuh ikan koi bisa menjadi indah jika mereka berkumpul dan beriringan dengan baik. Namun, kecipak air yag muncul dari kibasan ekor koi-koi ini bisa membuat air beriak kuat. Yang besar dengan badannya bisa menyenggol yang lebih kecil dengan tanpa ampun. Yang berpatik (seperti lele) bisa menyengat yang tidak. Yang kalem sendirian asyik berenang di kejauhan. Yang muda penuh semangat menyusuri setiap jengkal kolam, kadang menyeruduk di kerumuman koi-koi.

Kolam penuh ikan koi pasti indah jika warna-warni bisa padu.

Tetap Berjalan
Singaraja, 2 Mei 2015
Hari ini, tanggal 2 Mei 2016, tepat setahun Bali Edukasi berdiri. Jika diibaratkan manusia, BE masih bayi. Baru satu tahun, yang baru bisa merangkak, cooing, masih banyak harus belajar. Semangat kakak-kakak penyala peradaban tidak boleh padam. Tujuan inovatif harus terus dikobarkan. BE sudah satu tahun, BE akan tetap berjalan. Mark Twain bilang, “Two important things in your life, the day when you were born and you found out why.”

Mari kakak-kakak penyala peradaban!
download-1-1110x832Terima kasih kakak-kakak Bali Edukasi. Terima kasih para pahlawan pendidikan. Terima kasih Ki Hadjar Dewantara. Selamat Hari Pendidikan Nasional. Nyalakan Pelita, Terangkan Cita-cita.

Singaraja, 2 Mei 2016
Made Hery Santosa
Ketua dan Pendiri